ANALISA KOINTEGRASI ANTARA SAHAM SYARIAH DAN TINGKAT BUNGA: STUDI EMPIRIS PADA BURSA MALAYSIA
PENDAHULUAN
Hubungan jangka panjang dan saling
ketergantungan antara variabel-variabel ekonomi dan keuangan semakin
menarik perhatian para peneliti dewasa ini. Jatuhnya pasar modal (stock
market crash) pada bulan Oktober 1987 yang ditandai dengan jatuhnya
seluruh harga saham di seluruh dunia yang dimulai dari Asia yang
kemudian merembet ke Eropa, Amerika dan Japan pada waktu itu
membuktikan bahwa seluruh pasar modal di seluruh dunia mempunyai saling
keterkaitan dan ketergantungan satu sama lain. Disamping itu,
kecenderungan saling ketergantungan dan hubungan jangka panjang antara
dua atau lebih variabel ekonomi dan keuangan tidak hanya terjadi di
pasar modal saja. Hubungan jangka panjang antara inflasi dengan
variabel kebijakan ekonomi, harga saham dengan suku bunga, harga saham
dengan inflasi adalah contoh beberapa isu yang menarik perhatian para
peneliti.
Salah satu hal yang menarik di sini
adalah bahwa diantara sekian banyak penelitian tentang kointegrasi
keuangan dan pasar modal di atas, penelitian yang khusus membahas
mengenai kointegrasi antara pasar modal syariah dengan suku bunga
adalah sangat jarang dilakukan. Hal ini terbukti dengan banyaknya
penelitian-penelitian kointegrasi terdahulu yang lebih banyak
menfokuskan dirinya pada pasar keuangan konvesional (non syariah)
dibandingkan pasar keuangan syariah. Meskipun beberapa peneliti telah
mulai menyadari pentingnya penelitian mengenai pasar keuangan syariah
(seperti Sabri, 2005; Mansor, 2005), akan tetapi hal ini dipandang
masih belum cukup mengingat semakin pentingnya peran pasar keuangan
syariah di waktu yang akan datang.
Di samping mencoba mengangkat pasar modal syariah yang masih jarang di tulis oleh peneliti-peneliti sebelumnya, penelitian ini juga mencoba mencari hubungan antara harga saham syariah dengan suku bunga konvensional. Dalam teori keuangan dikatakan bahwa harga saham mempunyai hubungan terbalik dengan suku bunga. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya investor akan mencari alternatif investasi yang paling menguntungkan sehingga apabila suku bunga tinggi maka investor akan cenderung menginvestasikan dananya ke bank dibandingkan pasar modal karena akan memberikan alternatif investasi yang lebih menarik, demikian pula sebaliknya. Perilaku investor yang demikian tentu saja akan menyebabkan harga saham akan menurun seiring dengan kenaikan tingkat bunga konvensional. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan saham syariah, apakah investor saham syariah mempunyai perilaku yang sama dengan saham non-syariah dalam hubungannya dengan suku bunga konvensional?
Satu hal yang menarik lagi untuk diamati dalam kaitannya dengan kointegrasi antara harga saham dan suku bunga adalah pada masalah diversifikasi. Teori portfolio menganjurkan investor untuk melakukan diversifikasi untuk mengurangi resiko investasi. Diversifikasi antara masing-masing variabel investasi (seperti saham dan suku bunga yang dipakai dalam penelitian ini) akan optimal jika hubungan antara dua variabel ini mempunyai nilai yang negatif dan signifikan. Semakin negatif dan signifikan korelasi antar variabel-variabel maka kenaikan pada satu variabel investasi akan segera dikompensasi oleh penurunan variabel yang lain. Sebagai contoh, jika korelasi antara harga saham dan suku bunga adalah -1 maka tingkat keuntungan (rate of return) dari masing-masing variabel akan secara mutlak berlawanan arah, yang pada akhirnya akan mengurangi resiko investasi. Sebaliknya jika koefisien korelasi antara dua variabel adalah +1 maka kedua variabel tadi akan berjalan searah secara bersama-sama. Kombinasi dua variabel yang mempunyai arah yang sama tentu saja membuat diversifikasi untuk menurunkan resiko menjadi tidak mungkin karena antara masing-masing variabel mempunyai pola rate of return yang sama.
Di samping mencoba mengangkat pasar modal syariah yang masih jarang di tulis oleh peneliti-peneliti sebelumnya, penelitian ini juga mencoba mencari hubungan antara harga saham syariah dengan suku bunga konvensional. Dalam teori keuangan dikatakan bahwa harga saham mempunyai hubungan terbalik dengan suku bunga. Hal ini disebabkan karena pada dasarnya investor akan mencari alternatif investasi yang paling menguntungkan sehingga apabila suku bunga tinggi maka investor akan cenderung menginvestasikan dananya ke bank dibandingkan pasar modal karena akan memberikan alternatif investasi yang lebih menarik, demikian pula sebaliknya. Perilaku investor yang demikian tentu saja akan menyebabkan harga saham akan menurun seiring dengan kenaikan tingkat bunga konvensional. Pertanyaan selanjutnya adalah bagaimana dengan saham syariah, apakah investor saham syariah mempunyai perilaku yang sama dengan saham non-syariah dalam hubungannya dengan suku bunga konvensional?
Satu hal yang menarik lagi untuk diamati dalam kaitannya dengan kointegrasi antara harga saham dan suku bunga adalah pada masalah diversifikasi. Teori portfolio menganjurkan investor untuk melakukan diversifikasi untuk mengurangi resiko investasi. Diversifikasi antara masing-masing variabel investasi (seperti saham dan suku bunga yang dipakai dalam penelitian ini) akan optimal jika hubungan antara dua variabel ini mempunyai nilai yang negatif dan signifikan. Semakin negatif dan signifikan korelasi antar variabel-variabel maka kenaikan pada satu variabel investasi akan segera dikompensasi oleh penurunan variabel yang lain. Sebagai contoh, jika korelasi antara harga saham dan suku bunga adalah -1 maka tingkat keuntungan (rate of return) dari masing-masing variabel akan secara mutlak berlawanan arah, yang pada akhirnya akan mengurangi resiko investasi. Sebaliknya jika koefisien korelasi antara dua variabel adalah +1 maka kedua variabel tadi akan berjalan searah secara bersama-sama. Kombinasi dua variabel yang mempunyai arah yang sama tentu saja membuat diversifikasi untuk menurunkan resiko menjadi tidak mungkin karena antara masing-masing variabel mempunyai pola rate of return yang sama.
Comments